Merajut CintaNya
Seperti menari dalam sunyi memecah. Keheningan
dalam riakan gelombang. Maka terhenyaklah sepi. Berantai, mengakar pada
kenestapaan. Mudah ini kan kukunyah. Lumat dalam penyesalan disepertiga
terakhir. Merobek-robek jantung asa, dalam keterikatan dengan Sang Pencipta.
Belibis melentikkan sayapnya, terbang sampai ujung
pandang. Menyingkirkan jiwa yang lelah, pupus sudah asa. Lalu kita mulai bertanya
akan cinta kepadaNya. Yang begitu pudar dan temaram warnanya. Begitu mudah kita
melupakanNya. Sedang Dia selalu memberikan segalanya.
Mudah ini takkan berlansung lama teman. Ada resah.
Karena ada gundah di setiap sudut seginya. Ada gulana yang kan kau telan
sendiri dan dibawa dalam peti mati. Lalu pada siapa ia kembali? Menitikkan air
mata dalam laju kecepatan cahayaNya? Menegadah mengadukan gelisah pada
sepertiga terakhirnya?
Sungguh indah. Menggagahi keterpurukan dengan
cintaNya. Hanya padaNya. Mengembalikan semua miliknya. Karena sebenarnya aku
adalah papa. Jelata yang tersuruk dalam riuh genderang kesibukan kota. Karena akulah
yang tak punya maka kucoba ikhlaskan semua. Mengembalikan milikNya dalam indah
warna mega. Semuanya telah kembali ke haribaanNya. Semuanya indah. Sungguh. Semoga
berkah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar