Rabu, 17 Juni 2015

Kamis, 13 November 2014


Dalam mengibadahi Sang Pencipta begitu banyak cara yang bisa kita lakukan. Setiap hamba dinilai berdasarkan ibadahnya. Amalan itu nanti yang akan membedakan derjat taqwa seorang hamba. Begitu banyak tingkatannya. Mulai yang dikenal karena cahaya keimanannya, sampai yang tersembunyi dan hanya penduduk langit yang lebih mengenal namanya. Lalu dimana bagianku terletak? Ketika semua berlomba meningkatkan kualitas dan kuantitas keimanannya?
Dalam mengibadahi sang pencipta begitu banyak cara yang bisa kita lakukan. Setiap hamba diganjari sesuai dengan ibadahnya. Mereka yang ahli shalat akan dipanggil dari pintu shalat di syurga kelak. Mereka yang ahli shaum akan dipanggil dari pintu ar-rayyan. Dan Abu Bakar merupakan salah seorang yang akan dipanggil dari setiap pintu. Lalu dimana bagianku terletak? Ketika semua telah memasukinya dan tak satu pintu pun memanggilku kelak?
Padahal aku bukanlah hambaNya yang taat, bukan pula yang baik ibadahnya, bukan yang kaya dan dermawan diantara hambaNya, bukan yang senangi dunia ataupun langitNya. Lalu bagaimana aku akan menghadapi hari-hari setelah kematian nanti? Sedang kini tak satupun hujjah atas semua sikap yang telah kulakukan selama ini? Bagaimana aku akan menghadapi kesendirian di dalam kuburku nanti? Sedang kini lenaan dosa selalu menghampiri, sedang kemaksiatan adalah hal rutin yang kulakukan sehari-hari? Bagaimana aku akan dibangkitkan nanti? Akankah keringat diri menenggelamkanku pada hari berbangkit nanti?
Ya Rabb sungguh aku malu bermaksiat dan terus kembali memohon ampunanMu, aku malu mengibadahiMu dengan sisa-sisa tenagaku, mengingatMu disela-sela kesempitanku, aku malu menafikkan segala pengawasanMu. Ya Rabb,, pada yaumil hisab nanti Tak ada yang bisa menyelamatkanku kelak Ya Rabb,tidak ibadahku, tidak juga amalanku. Hanya ampunanMu, hanya kasih sayang dan rahmad Mu yang bisa membuatku memasuki syurgaMu. Ampuni kami Ya Rabb Perkenankanlah ya Rabb

Selasa, 04 November 2014


Hari ini minggu kesepuluh perkuliahan berjalan. Bagaimana teman-teman masih sanggupkah untuk terus melangkah? Masihkah ingin melanjutkan langkah? Memasuki minggu kesepuluh semua banyak diantara kita yang mulai menunjukkan gejala penolakan. Hal paling nyata terlihat pada kesehatan dan koneksi dalam berkomunikasi. Satu persatu mulai berjatuhan,,satu persatu mulai sakit, demam, maag, flu, asma,diare, pusing, mual, muntah :D *adakah yang tidak terdeteksi penyakitnya? Hehee,, semua kita merasakan, semua mulai merasakan kelelahan. Semua serasa ingin muntah setiap melihat tugas. Setidaknya itu yang kurasakan.  Aku seringkali merasa dosen begitu tega meninggalkan kita ditengah diskusi berjalan dengan  pertanyaan yang tak tertuntaskan. Dosen serasa begitu tega memberikan setumpuk tugas lagi dan lagi tanpa ada konfirmasi atas semua yang kita telah kita buat.
Semakin lama perkuliahan berjalan. Kurasakan makin memudar semangat untuk mengejar ketertinggalan dan mengulang kembali pelajaran.
Sekarang memasuki pertengahan semester, terjadi pergantian dosen untuk matakuliah yang dipegang oleh dua dosen. Dosen yang awalnya masuk, petengahan semester ini digantikan dengan dosen lain. Pergantian dosen memberikan atmosfer tersendiri untuk kelas.

Seringkali kita hanya bisa menuntut perkuliahan berjalan dengan baik, dosen harus begini, pemberian tugas harus begini, selama diskusi harus begini. Tetapi kita seringkali lupa bahwa semua yang telah kita terima merupakan pemberian terbaik yang bisa diberikan oleh dosen kita saat ini. Semua perintah, tugas yang diberikan oleh dosen merupakan semua yang terbaik saat ini. Mungkin, sebagian kita menyangka bahwa hanya kita yang menderita atas tugas yang diberikan oleh dosen. Tapi pernahkan kita membandingkan kesusahan kita dengan kesusahan yang dirasakan oleh dosen? Pernahkah kita melihat, mendengar, merasakan perjuangan yang mereka lakukan untuk datang mengajarkan ilmu kepada kita? Perkulihan Elektrodinamika dan Statistik kemaren membuatku sadar, bahwa beliau melakukan perjuangan begitu besar untuk memberikan semua yang mereka punya. Dengan berat kit harus mengakui bahwa itu tidak berlaku bagi semua dosen. Tapi ayolah,, kita tidak bisa mengontrol semua yang ada di luar kita.
Mungkin seringkali kita melakukan pembelaan atas ketidaksenangan yang kita terima. Seringkali kita merasa benar dengan keterbatasan ilmu yang kita miliki. Sering kali. Akan tetapi, mereka tetap guru kita, orang yang akan digugu dan menggurui kita. Mereka adalah manusia yang dengan segala keterbatasan dan dengan segala usaha memberikan yang terbaik untuk kita. Pernahkah kita memandang wajah mereka dan bertanya kapan terakhir kali mereka makan hari ini? ‘Saya belum makan dari pagi,” sambil tersenyum seorang dosen nyelutuk di depan kelas, saat beliau menyadari mata kami memandang segelas teh siang yang beliau seruput. Dengan senyum lebar, tanpa menampakkan keletihannya yang telah mengajar penuh dari pagi hingga siang ini di kelas kami. Kalau kita mau sedikit melihat masih ada banyak guru-guru terbaik di sekitar kita. Mereka yang sadar akan tanggung jawabnya untuk kita. Mereka yang sadar bahwa kewajiban itu adalah tugas mereka dalam rangka menunaikan amanah bangsa untuk pembangunan negara. Mereka yang sadar bahwa setiap kewajiban yang mereka tunaikan untuk kita akan diminta pertanggung jawaban dihadapanNya. Terima kasih guruku. Doa terbaik untukmu selalu. Semoga Allah mengampuni segala dosamu. Semoga Allah memudahkan segala urusanmu, di dunia dan di akhirat.

Senin, 08 September 2014

mengapa hanya selalu ada kesedihan yang mengiringi perjalanan dalam ingatan tentang kematian? mengapa hanya ketika sudah tidak ada lagi yang peduli semua ingatan akan Tuhan seakan menghampiri? Ya Rabb,, ampuni kami yang lalai,,

Selasa, 12 Agustus 2014

Saat itu
Tetes demi tetes turun
Bagaikan tirai transparan menjulang setinggi mata memandang
Gerimis itu mewakili hatiku
Turunnya satu satu
Seperti kanal di ujung mataku

Menetes malu-malu dalam sendiri
Malu terhadap Rabb ku
Malu atas semua semua yang ku ingin
Ya Rabb,,
Aku sedang mencoba mengetuk pintu langit
Memanggil manggil
Menggigil
Menghiba,,
Memohon ampunan dan kebaikan di dalam kehidupan
Ampuni kami Ya Rabb..


Senin, 28 Juli 2014

Ingin segera berlalu, dalam lika-liku dosa. Kapankah peleburan dosa ini kan ku dapatkan sementara kenikmatan akan semua kesalahan  begitu melenakan. Bising semakin menguasai duniaku dalam kesendirian, merobek asa yang tiap kali kubangun dalam derai tawa penuh lena. Kemanakah kan kucari. Pengampunan dari setiap dosa dan kesalahan.
Sendiri ini semakin membuatku lena. Membuat angkuh fikiranku dengan imaji yang kadang membuatku bungkam. Membuatku lalai dalam diam yang seakan ketaatan. Aku, dalam ingatan yang berkabut akan masa lalu yang begitu kelam, aku dengan segala ketakutan akan masa depan yang tak kunjung datang.

Sudahlah semua, bisakah tinggalkan aku yang mulai mengerti arti hina? Bisakah tak menyentuhku yang mulai kehilangan rasa ngilu dari luka? Bisakah tetap diam untuk sesaat. Tak perlu kata. Cukup diam dan aku kan melihat. Wajah seperti apa yang tertangkap oleh mata. Aku bisa membacanya duhai. Tak perlu kata. Tak perlu suara, tak perlu isyarat bunyi yang nantinya akan kusesali. Aku bisa mengerti bahkan hanya dari tatapanmu.

Rabu, 16 Juli 2014

Kembali
Di sini langkah bisa dimulai kapan saja.
Disaat semua hening, pun dalam bising.
Disini awal bisa dibuat dalam inginmu.
Disaat suka, pun duka.

Maka disini adalah pilihanmu.
Mengurai semua kelalaian
Atau luput dalam keangkuhan.

Maka bijakkanlah hidupmu.
Karena sejatinya kita bukan apa-apa.
Meskipun mengalir dalam rendah, tiap diri adalah raja.

Maka kaulah kemudi nahkodanya.
Tiap diri akan melayari sampannya.
Sejurus arah mata angin bahagianya

Maka pilihlah arah yang kau suka.
Mengitari samudra
Dalam layaran bahagia
pilihlah satu tujuanmu.

Dan biarkan ia Mengalir.
Mengalirlah menuju cinta
Hingga kau rasakan kasihNya begitu nyata.
menyesakkan dada.
Rasa yang kan membuatmu lena
Kembalilah kasih,
Kembali padaNya,
biarkan Dia menuntunmu
Membuaimu penuh cinta
Menyeretmu tuk kembali
menuju CintaNya