Hari ini minggu kesepuluh
perkuliahan berjalan. Bagaimana teman-teman masih sanggupkah untuk terus
melangkah? Masihkah ingin melanjutkan langkah? Memasuki minggu kesepuluh semua
banyak diantara kita yang mulai menunjukkan gejala penolakan. Hal paling nyata
terlihat pada kesehatan dan koneksi dalam berkomunikasi. Satu persatu mulai berjatuhan,,satu
persatu mulai sakit, demam, maag, flu, asma,diare, pusing, mual, muntah :D *adakah yang tidak
terdeteksi penyakitnya? Hehee,, semua kita merasakan, semua mulai merasakan
kelelahan. Semua serasa ingin muntah setiap melihat tugas. Setidaknya itu yang
kurasakan. Aku seringkali merasa dosen
begitu tega meninggalkan kita ditengah diskusi berjalan dengan pertanyaan yang tak tertuntaskan. Dosen
serasa begitu tega memberikan setumpuk tugas lagi dan lagi tanpa ada konfirmasi
atas semua yang kita telah kita buat.
Semakin lama
perkuliahan berjalan. Kurasakan makin memudar semangat untuk mengejar
ketertinggalan dan mengulang kembali pelajaran.
Sekarang memasuki pertengahan
semester, terjadi pergantian dosen untuk matakuliah yang dipegang oleh dua
dosen. Dosen yang awalnya masuk, petengahan semester ini digantikan dengan
dosen lain. Pergantian dosen memberikan atmosfer tersendiri untuk kelas.
Seringkali kita hanya
bisa menuntut perkuliahan berjalan dengan baik, dosen harus begini, pemberian
tugas harus begini, selama diskusi harus begini. Tetapi kita seringkali lupa
bahwa semua yang telah kita terima merupakan pemberian terbaik yang bisa
diberikan oleh dosen kita saat ini. Semua perintah, tugas yang diberikan oleh
dosen merupakan semua yang terbaik saat ini. Mungkin, sebagian kita menyangka
bahwa hanya kita yang menderita atas tugas yang diberikan oleh dosen. Tapi pernahkan
kita membandingkan kesusahan kita dengan kesusahan yang dirasakan oleh dosen?
Pernahkah kita melihat, mendengar, merasakan perjuangan yang mereka lakukan
untuk datang mengajarkan ilmu kepada kita? Perkulihan Elektrodinamika dan
Statistik kemaren membuatku sadar, bahwa beliau melakukan perjuangan begitu
besar untuk memberikan semua yang mereka punya. Dengan berat kit harus mengakui
bahwa itu tidak berlaku bagi semua dosen. Tapi ayolah,, kita tidak bisa
mengontrol semua yang ada di luar kita.
Mungkin seringkali
kita melakukan pembelaan atas ketidaksenangan yang kita terima. Seringkali kita
merasa benar dengan keterbatasan ilmu yang kita miliki. Sering kali. Akan
tetapi, mereka tetap guru kita, orang yang akan digugu dan menggurui kita.
Mereka adalah manusia yang dengan segala keterbatasan dan dengan segala usaha
memberikan yang terbaik untuk kita. Pernahkah kita memandang wajah mereka dan
bertanya kapan terakhir kali mereka makan hari ini? ‘Saya belum makan dari
pagi,” sambil tersenyum seorang dosen nyelutuk di depan kelas, saat beliau
menyadari mata kami memandang segelas teh siang yang beliau seruput. Dengan senyum
lebar, tanpa menampakkan keletihannya yang telah mengajar penuh dari pagi
hingga siang ini di kelas kami. Kalau kita mau sedikit melihat masih ada banyak
guru-guru terbaik di sekitar kita. Mereka yang sadar akan tanggung jawabnya
untuk kita. Mereka yang sadar bahwa kewajiban itu adalah tugas mereka dalam
rangka menunaikan amanah bangsa untuk pembangunan negara. Mereka yang sadar
bahwa setiap kewajiban yang mereka tunaikan untuk kita akan diminta pertanggung
jawaban dihadapanNya. Terima kasih guruku. Doa terbaik untukmu selalu. Semoga Allah
mengampuni segala dosamu. Semoga Allah memudahkan segala urusanmu, di dunia dan
di akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar