Selasa, 04 November 2014


Hari ini minggu kesepuluh perkuliahan berjalan. Bagaimana teman-teman masih sanggupkah untuk terus melangkah? Masihkah ingin melanjutkan langkah? Memasuki minggu kesepuluh semua banyak diantara kita yang mulai menunjukkan gejala penolakan. Hal paling nyata terlihat pada kesehatan dan koneksi dalam berkomunikasi. Satu persatu mulai berjatuhan,,satu persatu mulai sakit, demam, maag, flu, asma,diare, pusing, mual, muntah :D *adakah yang tidak terdeteksi penyakitnya? Hehee,, semua kita merasakan, semua mulai merasakan kelelahan. Semua serasa ingin muntah setiap melihat tugas. Setidaknya itu yang kurasakan.  Aku seringkali merasa dosen begitu tega meninggalkan kita ditengah diskusi berjalan dengan  pertanyaan yang tak tertuntaskan. Dosen serasa begitu tega memberikan setumpuk tugas lagi dan lagi tanpa ada konfirmasi atas semua yang kita telah kita buat.
Semakin lama perkuliahan berjalan. Kurasakan makin memudar semangat untuk mengejar ketertinggalan dan mengulang kembali pelajaran.
Sekarang memasuki pertengahan semester, terjadi pergantian dosen untuk matakuliah yang dipegang oleh dua dosen. Dosen yang awalnya masuk, petengahan semester ini digantikan dengan dosen lain. Pergantian dosen memberikan atmosfer tersendiri untuk kelas.

Seringkali kita hanya bisa menuntut perkuliahan berjalan dengan baik, dosen harus begini, pemberian tugas harus begini, selama diskusi harus begini. Tetapi kita seringkali lupa bahwa semua yang telah kita terima merupakan pemberian terbaik yang bisa diberikan oleh dosen kita saat ini. Semua perintah, tugas yang diberikan oleh dosen merupakan semua yang terbaik saat ini. Mungkin, sebagian kita menyangka bahwa hanya kita yang menderita atas tugas yang diberikan oleh dosen. Tapi pernahkan kita membandingkan kesusahan kita dengan kesusahan yang dirasakan oleh dosen? Pernahkah kita melihat, mendengar, merasakan perjuangan yang mereka lakukan untuk datang mengajarkan ilmu kepada kita? Perkulihan Elektrodinamika dan Statistik kemaren membuatku sadar, bahwa beliau melakukan perjuangan begitu besar untuk memberikan semua yang mereka punya. Dengan berat kit harus mengakui bahwa itu tidak berlaku bagi semua dosen. Tapi ayolah,, kita tidak bisa mengontrol semua yang ada di luar kita.
Mungkin seringkali kita melakukan pembelaan atas ketidaksenangan yang kita terima. Seringkali kita merasa benar dengan keterbatasan ilmu yang kita miliki. Sering kali. Akan tetapi, mereka tetap guru kita, orang yang akan digugu dan menggurui kita. Mereka adalah manusia yang dengan segala keterbatasan dan dengan segala usaha memberikan yang terbaik untuk kita. Pernahkah kita memandang wajah mereka dan bertanya kapan terakhir kali mereka makan hari ini? ‘Saya belum makan dari pagi,” sambil tersenyum seorang dosen nyelutuk di depan kelas, saat beliau menyadari mata kami memandang segelas teh siang yang beliau seruput. Dengan senyum lebar, tanpa menampakkan keletihannya yang telah mengajar penuh dari pagi hingga siang ini di kelas kami. Kalau kita mau sedikit melihat masih ada banyak guru-guru terbaik di sekitar kita. Mereka yang sadar akan tanggung jawabnya untuk kita. Mereka yang sadar bahwa kewajiban itu adalah tugas mereka dalam rangka menunaikan amanah bangsa untuk pembangunan negara. Mereka yang sadar bahwa setiap kewajiban yang mereka tunaikan untuk kita akan diminta pertanggung jawaban dihadapanNya. Terima kasih guruku. Doa terbaik untukmu selalu. Semoga Allah mengampuni segala dosamu. Semoga Allah memudahkan segala urusanmu, di dunia dan di akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar